"Akhirnya aku membiarkan
saja. Dan... Aku kembali merasakan buah dadaku dikeluarkan dari balik
dasterku yang mini dan tipis. Irvan mengisapnya perlahan-lahan. Ah...
kembali aku bernafsu. Terlebih kembali sebelah tangannya mengelus-elus
bulu vaginaku. Sebuah jari-jarinya mulai mengelus klentitku."
Sejak aku divonnis dokter
kandungan, tak bolehmemiliki anak lagi, hatiku sangat sedih. Rupanya,
Tuhan hanya menitipkan seoang anak saja yang kulahirkan. Rahimku, hanya
boleh melahirkan seoang anak laki-laki di rahimku. Setelah aku sehat dan
kembali dari rumah sakit membawa bayiku, dan bayiku berusia 1 tahun,
dengan lembut suamiku meminta izin untuk menikah lagi. Alasannya,
baginya seorang anak tak mungkin. Dia harus memiliki anak yang lain,
laki- laki dan perempuan.
Dengan sedih, aku "terpaksa" merelakan suamiku
untuk menikah lagi. Parakanku sudah tdiangkat, demi keselamatanku dan
kesehatanku. Sejakl pernikahannya, dia jarang pulang ke rumah. Paling
sekali dalam seminggu. Kini setelah usia anakku 15 tahun, suamiku justru
tak pernah pulang ke rumah lagi.
Dia telah memiliki 4 orang anak,
tepatnya dua pasang dari isteri mudanya dan dua anak lagi dari isterinya
yang ketiga. Aku harus puas, memiliki tiga buah toko yang serahkan atas
namaku serta sebuah mobil dan sebuah taksi selain sedikit deposito yang
terus kutabung unutk biaya kuliah anakku Irvan nanti. Irvan sendiri
sudah tak perduli pada ayahnya. Malah, kalau ayahnya pulang, kelihatan
Irvan tak bersahabat dengannya. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Semoga
saja Irvan tidak berdosa pada ayahnya.
Setiap malam Aku selalu mengeloni
Irvan agar tubuhku tak kedinginan disiram oleh suasana dingin AC 2 PK
di kamar tidurku. Irvan juga kalau kedinginan, justru merapatkan
tubuhnya ke tubuhku. Irvan memang anak yang manja dan aku menyenanginya.
Sudah menjadi kebiasaanku, kalau aku tidur hanya memakai daster mini
tanpa sehelai kain pun di balik daster miniku. Aku menikmati tidurku
dengan udara dinginnya AC dan timpa selmut tebal yang lebar.
NIkmat
sekali rasanya tidur memeluk anak semata wayangku, Irvan. Kusalurkan
belai kasih sayangku padany. Hanya padanya yang aku sayangi. Sudah
beberapa kali aku merasakan, buah dadanya diisap-isap oleh Irvan. Aku
mengelus- elus kepala Irvan dengan kelembutan dan kasih sayang. Tapi
kali ini, tidak seperti biasanya. Hisapan pda pentil teteku, terasa
demikian indahnya.
Terlebih sebelah tangan Irvan mengelus-elus bulu
vaginaku. Oh... indah sekali Aku membiarkannya. Toh dia anakku juga.
Biarlah, agar tidurnya membuahkan mimpi yang indah. Saat aku mencabut
pentil tetekku dari mulut Irvan, dia mendesah.
"Mamaaaaa..." Kuganti
memasukkan pentil tetekku yang lain ke dalam mulutnya. Selalu begitu,
sampai akhirnya mulutnya terlepas dari tetekku dan aku menyelimutinya
dan kami tertidur pulas. Malam ini, aku justru sangat bernafsu. Aku
ingin disetubuhi. Ah... Mampukah Irvan menyetubuhiku. Usianya baru 15
tahun. Masih SMP. Mampukah. Pertanyaan itu selalu bergulat dalam
bathinku. Keesokan paginya, saat Irvan pergi ke sekolah, aku membongkar
lemari yang sudah lama tak kurapikan. Di lemari pakaiaIrvan di kamarnya
(walaudia tak pernah meniduri kamarnya itu) aku melihat beberapa keping
CD.
Saat aku putar, ternyata semua nya film-film porno dengan berbagai
posisi. Dadaku gemuruh. Apaah anakku sudah mengerti seks? Apakah dia
sudah mencobanya dengan perempuan lain? Atau dengan pelacur kah?
Haruskah aku menanyakan ini pada anakku? Apakah jiwanya tidak terganggu,
kalau aku mempertanyakannya? Dalam aku berpikir, kusimpulkan, sebaiknya
kubiarkan dulu dan aku akan menyelidikinya dengan sebaik mungkin dengan
se tertutup mungkin.
Seusai Irvan mengerjakan PR-nya (Disekolah Irvan
memang anak pintar), dia meniki tempat tidur dan memasuki selimutku. Dia
cium pipi kiri dan pipi kananku sembari membisikkan: Selamat malam...
mama..." Biasanya aku menjawabnya dengan:"Selamat malam sayag..." Tapi
kalau aku sudah tertidur, biasanyaaku tak menjawabnya.Dadaku gemuruh,
apaah malam ini aku mempertanyakan CD porno itu.
Akhirnya aku membiarkan
saja. Dan... Aku kembali merasakan buah dadaku dikeluarkan dari balik
dasterku yang mini dan tipis. Irvan mengisapnya perlahan-lahan. Ah...
kembali aku bernafsu. Terlebih kembali sebelah tangannya mengelus-elus
bulu vaginaku. Sebuah jari-jarinya mulai mengelus klentitku.
Aku
merasakan kenikmatan. Kali ini, aku yakin Irvan tidak tidur. Aku
merasakan dari nafasnya yang memburu. Aku diam saja. Sampai jarinya
memasuki lubang vaginaku dan mempermainkan jarinya di sana. Ingin
rasanya aku mendesah, tapi... Aku tahu, Irvan menurunkan celananya,
sampai bagian bawah tubuhnya sudah bertelanjang. Dengan sebelah kakinya,
dia mengangkangkan kedua kakiku. Dan.... Irvan menaiki tubuhku denngan
perlahan.
Aku merasakan penisnya mengeras. Berkali-kali dia menusukkan
penis itu ke dalam vaginaku. Irvan ternyata tidak mengetahui, dimana
lubang vagina.
Berkali-kali gagal. Aku kasihan padanya, karena hampir
saja dia putus asa. Tanpa sadar, aku mengangkangkankedua kakiu lebih
lebar. Saat penisnya menusuk bagian atas vaginaku, aku mengangkat
pantatku dan perlahan penis itu memasuki ruang vaginaku. Irvan
menekannya. Vaginaku yang sudah basah, langsung menelan penisnya.
Nampaknya Irvan belum mampu mengatasi keseimbangan dirinya. Dia langsung
menggenjotku dan mengisapi tetekku. Lalu crooot...croot...croooootttt,
spermanya menyemprot di dalam vaginaku. Tubuhnya mengejang dan melemas
beberapa saat kemudian. Perlahan Irvan menuruni tubuhku. Aku belum
sampai... tapi aku tak mungkin berbuat apa-apa. Besok malamna, hal itu
terjadi lagi. Terjadi lagi dan terjadi lagi. Setidaknya tiga kali dalam
semingu. Irvan pun menjadi laki-laki yang dewasa. Tak sedikit pun kami
menyinggung kejadian malam-malam itu. Kami hanya berbicara tentang
hal-hal lain saja. Sampai suatu sore, aku benar-benar bernafsu sekali.
Ingin sekali disetubuhi.
Saat berpapasan dengan Irvan aku mengelus
penisnya dari luar celananya. Irvan membalas meremas pantatku. Aku
secepatnya ke kamar dan membuka semua pakaianku, lalu merebahkan dri di
atas tempat di tutupi selimut. Aku berharap, Irvan memasuki kamar
tidurku. Belum sempat usai aku berharap, Irvan sudeah memasuki kamar
tidurku. Di naik ke kamar tidurku dan menyingkap selimutku.
Melihat aku
tertidur dengan telanjang bulat, Irvan langsung melepas semua pakaiannya.
Sampai bugil. Bibirku dan tetekku sasaran utamanya. AKu mengelus- elus
kepalanya dan tubuhnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar